Tentang KH Syarif (2)
Ahlussunnah (3)
Artikel (5)
Beli Buku (5)
Beli DVD Ceramah (6)
Buletin Qum (142)
Cerpen (1)
Daftar Donatur (2)
English Course (2)
Entertainment (2)
Iklan (8)
Ilmu Hikmah (0)
Info Guru (23)
Info Banten (1)
Info Lowongan (0)
Info MA (13)
Info MTs (5)
Info Nasional (22)
Info Pesantren (30)
Info Sisiwa (14)
Info Tangsel (6)
Info TK (1)
Info TPA/Q (1)
Iptek (13)
kabar kampung (3)
Kajian Hadits (3)
Karya KH. Syarif (6)
Kitab Nadzoman (4)
Kolom Alumni (8)
Kolom Guru (0)
Kolom KAMAD (6)
Kolom OSIS (2)
Kolom Pengasuh (22)
Kreatifitas Siswa (0)
Madzahib (1)
Music (0)
Olahraga (1)
Pendidikan (13)
Politik (1)
Puisi (2)
Resensi Buku (1)
Sejarah (1)
Software (1)
Studi Aliran (6)
Studi Tokoh (6)
Study Naskah (9)
Tafsir (1)
Tahfidzul Qur'an (1)
Ulama Nusantara (5)
Ulum al Qur'an (1)





















• 24 Desember 2011
Libur Akhir Semester Ganjil 2011

• 23 Desember 2011
Pembagian Raport MTs & Ma

• 02 Desember 2011
UAS MTs , MA dan Pondok Pesantren

• 22 Agustus 2011
Libur 'Idul Fitri 1432 H


Beranda » Study Naskah » Kitab Talimul Mutaalim

Rabu, 01 September 2010 - 22:33:19 WIB
Kitab Talimul Mutaalim
Diposting oleh : Admin
Kategori: Study Naskah - Dibaca: 7624 kali

Etika Santri Menurut al-Jarnuji. Di lingkungan pesantren tradisional, yang menekankan pemahaman kitab-kitab salaf, seolah-olah kitab Ta’lim al-Mutaallim Thariq al-Taallum (Mengajar Metode Belajar kepada Santri) merupakan kitab kedua sesudah al-Qur’an. Studi seorang santri dianggap belum memenuhi syarat apabila ia belum mengaji kitab ini. Dan karena isi dan penyajiannya sedemikian rupa, kitab tersebut sering disebut sebagai “Buku Petunjuk Menjadi Kyai”. Sedang di kalangan pesantren-pesantren modern yang penekanan pemahaman terhadap kitab-kitab salaf agak kurang, kitab Ta’lim ini nyaris tidak populer, bahkan tidak kenal sama sekali. Dan agaknya pengaruh kitab ini yang sedikit membedakan “penampilan” antara alumnus pesantren tradisional dengan alumnus pesantren modern. Di beberapa negara Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia kitab ini juga tidak disebut-sebut. Namun usaha seorang Doktor lulusan Jerman (dulu: Jerman Barat) yang melakukan edit dan kritik terhadap kitab ini membuktikan bahwa kitab tersebut masih diperhatikan orang.

Siapa al-Jarnuji?

Kitab Ta’lim yang beredar di tanah air umumnya dicetak dengan syarah (komentar)nya yang ditulis Syeikh Ibrahim ibn Isma’il. Sedang kitab Talim itu sendiri ditulis oleh Syeikh al-Jarnuji. Baik kitab Ta’lim maupun Syarah-nya tidak menyebut identitas al-Jarnuji. Hal ini cukup mempersulit kajian kitab tersebut, sehingga dapat diketahui bagaiamana keadaan pada waktu kitab itu ditulis dan sejauhmana hal itu mempengaruhi kitabnya. Dalam al-Munjid nama al-Jarnuji disebut singkat sekali. Yang agak membantu hal ini adalah keterangan yang terdapat dalam kitab al-A’lam (Tokoh-tokoh) karangan al-Zarkeli. Ditulis di situ bahwa al-Jarnuji adalah al-Nu’man ibn Ibrahim ibn Khalil al-Jarnuji, Taj al-Din. Beliau adalah sastrawan (adib) yang berasal dari Bukhara. Semula berasal dari Zarnuj, suatu kawasan di negeri-negeri seberang sungai Tigris (ma wara`a al-nahr). Beliau antara lain menulis kitab al-Muwadhdhah Syarh al-Maqamat al-Haririyah, dan wafat pada tahun 630 H/ 1242 M. Al-Zarkeli tidak menuturkan di mana al-Jarnuji tinggal, namun secara umum al-Jarnuji hidup pada akhir periode Daulah Abbasiyah, sebab Khalifah Abbasiyah terakhir (al-Mu’tashim) wafat pada tahun 1258 M. Ada kemungkinan beliau tinggal di kawasan Irak-Iran, sebab beliau juga mengetahui syair-syair Parsi di samping banyaknya contoh-contoh peristiwa pada masa Abbasiyah yang beliau tuturkan dalam kitabnya. Etika Santri Kitab kecil, yang juga disebut Risalah (surat) ini, oleh pengarangnya dimaksudkan sebagai buku petunjuk tentang metode belajar bagi santri, seperti tersembul dari judulnya. Namun apabila dikaji isinya, metode belajar yang dimaksud sangat sedikit. Di antara 14 bab yang terdapat kitab ini (istilah kitabnya, fashl) hanya satu bab saja yang membahas metode belajar. Selebihnya membahas tentang keutamaan ilmu, motivasi belajar, memilih ilmu, guru, dan kawan, memuliakan ilmu dan ulama, dan lain-lain. Bahkan membahas hal-hal yang dianggap dapat mempercepat rizki, karena belajar tak pelak lagi memerlukan hal itu. Karenanya, kitab ini cenderung lebih tepat disebut sebagai kitab yang membahas etika santri, khususnya kepada guru-gurunya, dibanding sebagai kitab tentang metode belajar. Dan agaknya, bagian inilah yang paling banyak mempunyai dampak.

Di lingkungan pesantren, santri yang tidak sopan terhadap guru, ia akan segera dicap “tidak pernah mengaji kitab Ta’lim”, tetapi santri yang bodoh yang boleh jadi belum atau tidak mempraktekan isi kitab tersebut, cap itu tidak akan disandanganya. Dan karena pengarangnya seorang santrawan, maka petuah-petuah untuk itu juga banyak diambil dari syair-syair Arab. Namun persoalaannya tidak berhenti sampai di situ, al-Jarnuji menyebut kitabnya sebagai metode belajar, sedangkan kajiannya banyak membahas etika. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah etika itu sendiri merupakan salah satu metode untuk meraih ilmu? Tampaknya di kalangan pesantren ada kecenderungan untuk menyebutkan bahwa etika santri, terutama kepada gurunya, merupakan salah satu perangkat untuk memperoleh ilmu. Kisah-kisah santri yang pada waktu nyantrinya menjadi khadam (pembantu) kyai, menjadi tukang ambil air, dan lain-lain, tiba-tiba setelah pulang muncul sebagai kyai yang alim, adalah cerita yang sangat populer di kalangan pesantren semata-mata karena keluhuran spiritual seorang kyai atau pendiri pesantren tersebut. Baginya masalah metode belajar tidak menjadi soal, yang penting setelah sekian lama menyantri kelak akan muncul sebagai kyai yang alim, berkat ‘barakah’ dari kyai tersebut. Kecendungan ini masih sangat berpengaruh di masyarakat. Tak heran kalau tokoh pesantren seperti H.M. Yusuf Hasyim, Pengasuh Pesantren Tebuireng, membuat istilah adanya “lembaga Barakah” di pesantren, ketika santri belajar hanya semata-mata mengharapkan barakah dari kyai atau pendiri pesantren. Adanya barakah sebenarnya tidak perlu dipersoalkan, sebab pengertian barakah adalah kebaikan atau manfaat yang berkembang. Dan dalam hal ini, hasil doa para kyai dan guru untuk para santrinya dapat disebut barakah. Hanya harapan santri untuk memperoleh barakah hendaknya tidak mengurangi usahanya dalam belajar secara lahiriah. Dengan demikian, santri dalam satu saat harus menyatukan antara usaha (ikhtiar) dan doa.

Menjadi Budak Guru?

Salah satu bagian dari petuah-petuah kitab ini —dan ini yang paling berpengaruh seperti dituturkan di muka— adalah keharusan seorang santri untuk menghormati gurunya, begitu pula orang-orang yang mempunyai pertalian darah dengannya, seperti puteranya dan lain-lain. Khusus untuk menghormati guru, al-Jarnuji menyitir ucapan Sayidina Ali, “ana ‘abdu man ‘allamani harfan, in sya`a ba’a, wa in sya`a a’taqa wa in sya’a istaqarra” (Saya adalah hamba orang yang pernah mengajarkan satu huruf kepada saya, apabila ia mau boleh menjualku, memerdekakanku, atau tetap memperbudakku). Al-Jarnuji juga menuturkan beberapa cara menghormati guru, antara lain santri tidak diperkenankan berjalan di hadapan guru, tidak diperkenankan duduk di tempat duduknya, tidak boleh mendahului berbicara tanpa izinnya. Tidak boleh banyak berbicara dengannya, tidak boleh menanyakan hal-hal yang gurunya sudah jenuh, tidak boleh mengetuk pintunya tetapi mesti menunggu sampai keluar sendiri. Walhasil, santri harus selalu mencari kerelaan gurunya (tidak menyakiti hatinya) dan mematuhi segala perintahnya, sepanjang hal itu bukan ma’siat. Keterangan inilah, agaknya, yang menimbulkan persepsi penyerahan total seorang santri kepada gurunya. Apalagi bila diingat adanya bayang-bayang, ilmunya tidak akan bermanfaat apabila ia pernah berbeda pendapat (I’tiradh) dengan gurunya atau pernah menyakiti hatinya. Persepsi ini, meski mempunyai nilai positif, namun tak urung menimbulkan dampak yang kurang diinginkan. Sebab, santri harus bersikap menerima tanpa berani bersikap kritis. Al-Jarnuji memang tidak memberikan rincian tentang masalah-masalah apa yang bisa menyakiti guru itu. Barang kali karena tidak adanya rincian ini menjadikan hal itu diberlakukan secara umum. Dan anehnya, meskipun hal itu hanya dibahas dalam rangka belajar, namun implementasinya justru tampak di luar itu. Persepsi ‘apa kata guru dan murid harus menerimanya’ sudah melembaga dalam kehidupan masyarakat secara luas. Keharusan memperoleh kerelaan guru nampak sangar relatif, apalagi bila hal itu dihubungkan dengan masalah interpretasi. Ternyata al-Jarnuji tidak menuturkan satu dalil pun petuahnya itu, selain ucapan Sayidina Ali serta sejumlah syair. Dalam kaitannya dengan tradisi keilmuan, apabila kita tengok masa-masa jauh sebelum al-Jarnuji, misalnya periode imam-imam penegak madzhab, kita dapat memperoleh gambaran bahwa mereka tidak selamanya sependapat dengan gurunya. Bahkan, di antara mereka ada yang mendirikan madzhab sendiri, terpisah dari madzhab gurunya. Jauh sebelum itu, Umar ibn Khathab pernah juga diprotes oleh seorang wanita yang juga sebagai muridnya. Bila petuah al-Jarnuji di atas menjadi kriteria, sebenarnya gurulah yang sebenarnya elastis dalam mengkonotasikan kerelaannya. Sebab, boleh jadi seorang guru merasa tersinggung (tidak rela) apabila muridnya berbeda pendapat dengannya, sedangkan guru lain justru merasa bangga, bakan mendorong apabila muridnya berpendapat lain selama hal itu berdasarkan argumen yang kuat. Tentang bayangan bahwa ilmu seorang santri tidak akan bermanfaat apabila ia pernah menyakiti hati gurunya, juga perlu direnungkan kembali. Apakah batasan manfaat dan dalam hal apa murid tidak diperkenankan sama sekali menyakiti hati gurunya. Sebab, ternyata banyak murid yang sewaktu belajar pernah melakukan ‘unjuk rasa’ terhadap gurunya, namun setelah terjun di masyarakat ia justru menjadi ulama besar.

Ushul Fiqih, Menerobos Taklid Kepatuhan mutlak

seperti tersebut di atas umumnya terdapat di kalangan murid atau santri tingkat Tsanawiyah ke bawah. Mereka yang sudah menginjakkan kakinya di tingkat Aliyah, apalagi di perguruan tinggi, keadaan di atas memperoleh bentuk yang lain. Masalahnya bukan karena mereka tidak lagi patuh kepada gurunya, melainkan pada tingkat tersebut usaha penalaran mulai dikembangkan. Pada tingat Aliyah, misalnya, murid tidak lagi sekedar menerima pelajaran yang sudah mapan seperti fiqh dan lain sebagainya, tetapi dikenalkan pula sumber-sumber atau dalil-dalil pelajaran itu. Di sini santri mulai mengenal proses terbentuknya fiqh, yang kenal dengan ‘ushul fiqh’. Karena tujuan ushul fiqh adalah mengkaji sumber dan cara pengambilan hukum, maka secara praktis ia menghendaki agar manusia tidak bersikap taklid (menerima apa adanya tanpa mengetahui sumbernya). Disinilah murid mulai berani mempertanyakan keabsahan suatu hukum kepada gurunya, tanpa meninggalkan penghormatan kepadanya. Umumnya, pada tingkat ini guru cukup menghargai sikap murid-murid yang demikian. Biasanya keadaan ini didukung pula oleh sistem pengajian yang individual (sorogan) atau klasikal. Karenanya, dapat dimaklumi apabila murid-murid pesantren yang menerapkan sistem klasikal dan individual ini lebih mencerminkan kelonggaran berfikir dari pada murid-murid pesantren yang menerapkan sistem pengajian bandongan (massal). Murid-murid pesantren tipe pertama akan mengatakan apa kata dalil dan bagaimana memprosesnya menjadi suatu hukum, sedang murid-murid pesantren tipe kedua lebih cenderung mengatakan apa kata guru atau apa kata kyai. Keseimbangan (Tawazun) Kitan Ta’lim karangan al-Jarnuji ini lebih tepat disebut sebagai kitab yang membahas etika santri, terutama terhadap gurunya, dari pada sebagai kitab metode, kecuali apabila kita sependapat bahwa etika itu sendiri merupakan metode. Namun etika yang dimaksud oleh kitab ini lebih banyak diwarnai oleh keadaan pada waktu kitab tersebut ditulis, seperti dapat dilihat dari banyaknya contoh-contoh yang bersifat lokal. Tanpa mengurangi etika yang hendak ditanamkan oleh al-Jarnuji, sesudah mengkaji kitab ini seyogyanya murid melanjutkan kajiannya tentang kitab-kitab ushul fiqh. Dengan demikian murid dapat memiliki kelebihan ganda, kemampuan berfikir longgar dan etika yang terpuji. Kedua kelebihan ini perlu diwujudkan secara berimbang (tawazun), sebab sikap kritis yang tidak diimbangi dengan etika akan merepotkan para guru dan pengelola pendidikan, sedang keluhuran etika tanpa dibarengi dengan sikap kritis sering menimbulkan ‘lelucon’. Guru yang didemonstrasi muridnya merupakan contoh keadaan pertama, dan seorang murid yang mencium tangan tamu non muslim yang datang ke sekolahnya merupakan contoh untuk keadaan kedua. (amy) (www.kemenag.go.id

Tentang Buku Judul : Ta’lim al-Muta’allim Thariq al-Ta’allum

Penulis : al-Nu’man ibn Ibrahim al-Khalil al-Jarnuji

Penerbit : Dar al-Kutub al-Islamiyyah

Tebal : 96 hlm.



25 Komentar :

Ibnu.Suradi
04 Agustus 2011 - 10:26:16 WIB

Bismillaah,

Buku yang bagus yang mengungkap bahwa santri tingkat tsnawiyah masih dikondisikan untuk taklid kepada gurunya untuntuk menjunjung tinggi etika kepada gurunya. Sedangkan santri tingkat aliyah dan perguruan tinggi mulai kritis dengan mencari dalil dari penetapan hukum.

Sehingga, ketika santri aliyah lulus, ia sudah siap terjun ke masyarakat. Dan ketika ditanya tentang dalil amalan yang dia sampaikan, maka ia tidak lagi menjawab: "Kata guru saya begini, begitu....." tapi dapat mengatakan dengan tegas: "Allah dan RasulNya mengatakan begini, begini, begitu ......." dengan mengutip ayat Qur'an dan hadits yang shahih.

Wallaahu a'lam.
abdus shabur
23 Agustus 2011 - 10:50:54 WIB

AHLI BID'AH TAQLID PADA GURU & SUKA TRADISI padahal ini dicela dalam ayat Al-Quran berikut ini.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka : Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul. Mereka menjawab : Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya (tradisi). Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka, walaupun nenek-moyang mereka itu tidak tahu apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Surat Al-Maidah (5):104)
WONG CIAMIS
23 Agustus 2011 - 23:32:25 WIB

ENTE KULTUSIN SYAIKH2 ENTE..UDAH TAU SESAT DI IKUTI
andik hrtanto
05 September 2011 - 23:09:51 WIB

tahu qu'ran dan hadist dari buku atau dari guru? Surat Al maidah (5): 104, itu dalil untuk apa???????? seorang santri MTS, kalo ga ikut guru, buat apa .sekolah. gmn mreka belajar baca Al quran, belajar tajwid dll klo ga pake guru. gmn belajar ilmu hadist klo bukan dari guru. santri pakarui buku, guru juga pakai buku....sama2 pakai buku. Gurg dibidangnya menjelaskan, santri ga paham bertanya. T
andik hartanto
05 September 2011 - 23:17:14 WIB

abdus shabur pakai dalil salah, bawa2 ayatl quran, tp ngawur. org2 smacam belajar agama kebanyakan dari buku terjemahan. klo ada yg bawa tradisi salah, diingatkan. tp klo ada org kumpul2 baca al quran berzikir jgn panas hati. masak kayak setan ada org baca qur'an, berzikir, setan panas semua, lari terbirit2. setan2 akan berkata" ahli bid'ah, syirik, kafir, vonis sesat.
elham
08 September 2011 - 08:17:08 WIB

Asslkm. Gan...
Jangan saling menyalahkan dan saling menuding paling benar...!!
Ketika anda sudah menghafal Al-Quran, Hadist seperti kebanyakan para ulama terdahulu sekaligus ilmu al_quran dan ilmu hadits, baru kalian mencari ta'bir sendiri...

Kita sebagai orang yang awam dan bodo masih perlu para Guru dan ulama guna membimbing kita dalam menuntut agama Allah SWT...
Konsep yang di paparkan oleh Az Zurjani masih banyak dan masih relefan dalam menggali ilmu-ilmu Allah, terbukti dari pesntren yg masih mengikuti'y.. baik salaf maupun moderen...!!
Jika anda saudara punya pemikiran lain tentang konsep menuntut ilmu, silahkan buat kitab sendiri beserta ta'bir dan sumber2 secara otentik.. lalu di publikasikan ke seluruh penjuru dunia, seperti yg dilakukan oleh imam Az Zurjani...

Terima Kasih atas pengetahuannya Gan... selalu belajar ya Gan..
Wassalam..
Ibnu.Suradi
13 September 2011 - 09:48:55 WIB

Bismillaah,

Mari kita kembali membahas Kitab Talimul Mutaalim. Kitab tersebut menyarankan santri tingkat aliyah dan jami'ah untuk kritis dalam rangka mendapatkan dalil amalan ibadahnya dan masalah agama yang lain. Sehingga, bila ditanya dalil amalan ibadahnya, dia tidak menjawab: "Kata guru saya begini, begitu..." tapi dengan tegas menjawab: " Kata Allah dan RasulNya begini, begitu ......."

Namun bila masih dalam tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah, para santri musti mengikuti gurunya dalam mempelajari alat untuk memahami agama Islam. Maka, bisa diterima bila mereka masih merujuk perkataan gurunya dalam menjawab pertanyaan tentang amalan ibadahnya.

Wallaahu 'alam.
ujang ruhyat
06 Oktober 2011 - 08:33:40 WIB

itulah kiranya kita dapat menerapkan metode belajar yang seimbang tidak hanya taklid kepada guru/kyai kita..tapi harus mengetahui asal hukum-hukum yang dikemukakan oleh kyai atau ulama. sebab dengan begitu kita akan mengetahui batasan-batasan mana yang harus dipatuhi dan tidak mesti diikuti.
namun penghormatan kepada guru sesuatu yang memang harus diperhatikan..karena sebagai sebuah implementasi akhlaq murid.
blogger nusantara blogpreneur indonesia
12 Oktober 2011 - 15:01:01 WIB

sangat menarik sekali....
wong ciamis
12 Oktober 2011 - 17:01:39 WIB

abdu sobur ...antek wahabi yang baru bisa baca quran & terjemahnya aja ..pakai ayat al Qur'an untuk menfonis orang...baca kitab Tafsir aja ga becus udah sembarangan nuduh orang bidah....baca tafsirnya dulu itu !!!! ayat itu buat siapa ???? nanti elo sendiri yang masuk neraka menafsirkan ayat al Quran pake udelmu dewe....
abdullah
16 Oktober 2011 - 21:03:22 WIB

kpd saudara yg terhormat abdus shabur, kami harap, sblm menafsirkan suatu ayat, diusahakn lht terlbih dhulu ta'wil yg aslinya di tafsir jalalain atau tafsir ibnu katsir.
krn sabda nabi : "brng siapa yg menafsirkan al-qur'an dgn akalnya maka tmp tinggalnya di NERAKA. wassalam.
BejUbel MarKet PlacE TerbAik IndOnesia
30 Oktober 2011 - 08:25:40 WIB

sangat menarik sekali....
Jaka Tingkir
10 November 2011 - 02:37:27 WIB

abdus shabur itulah contoh orang yang tidak mau taqlid, ya...akhirnya salah menempatkan ayat. ayat yang semestinya ditujukan kepada kafir tetapi diganjal kaum muslimin. apakah bapak-bapak orang Islam ini semuanya "LA YA'QILUUNA SYAI-AA"
Jaka Tingkir
10 November 2011 - 02:43:55 WIB

atau mungkin bapak ente yang "LA YA'QILUUNA SYAI-AA" . Kalau orang-orang dahulu terutama guru-guru itu sudah tidak benar maka kita dapat ilmu dari mana? dari al-Quran dan Hadits? OKe..tetapi siapa yang menjelaskannya? apakah guru yang "LA YA'QILUUNA SYAI-AA". inilah kesalahan wahabi.. ingin menghapus fanatik terhadap guru tetapi sekaligus menghapus hormat kepada guru, bahkan akhirnya tidak menggunakan lagi ilmu yang sudah diajarkan guru.
MUH. ALI SODIK
10 November 2011 - 18:24:21 WIB

yang jelas....kami pernah bersekolah di sekolah formal....yang sama sekali tidak ada konsep ta'lim...dan punya kecenderungan mbombong murid agar mapu kritis di segala hal.....tp apa yang terjadi..
kami juga pernah modok di pesantren salafi yang bertatibkan filosofi ta'lim....

ane tawarin...cobalah 2 lembaga tsb....ntar rasakan dulu...

menurut ane semua nya baik...andai terapanya tidak sepenggal..sepenggal tapi secara keseluruhan mengacu di satu sistem yang ada....baik kitab tasklim...atau kitab putih...
Panjul
26 November 2011 - 11:08:15 WIB

Dalam seminar Internasional di UIN Jakarta tentang pendidikan pun ternyata para profesor ternyata banyak yang memuji manfaat kitab talimul muta'alim
sholeh
03 Januari 2012 - 08:37:03 WIB

sungguh luar biasa uraian diatas. sebab semakin sedikit orang yang peduli tentang kitab kitab salaf. padahal dari kitab tersebut banyak mengajarkan tentang akhlaq dan tata krama bagi semua santri/murid
mata angin
30 Mei 2012 - 23:22:31 WIB

coba kalian meguru sama ulil sumbing, musdah lesi, said aqil balig, lutfi kasak kusuk, guntur romlah ( jaringan iblis laknatullah ) kl pengen cepet dapat duit.
kebo abang
30 Mei 2012 - 23:25:11 WIB

http://forum.detik.com/daftar-50-tokoh-jil-indonesia-t4270 3.html
Lukman hakim
13 Juni 2012 - 13:10:05 WIB

gimana caranya sy bisa memiliki kitab ini, jika ada sy membutuhkan kitab syarh ta'lim muta'allim yang sudah bermakna jenggot indonesia(melayu).
hub : 021-98655714
email : kcr.lkm@gmail.com
londo ireng
25 Juni 2012 - 21:53:03 WIB

http://nahimunkar.com/7668/apa-hubungan-tarekat-theosofi-y ahudi-dan-nu-dalam-mendukung-penjajah-dan-menghadapi-isla m/
pepaya
25 Juni 2012 - 21:58:28 WIB

@ wong ciamis : ente lucuuuuu....atao sabbb lennnng
Dhe elbanjarie
27 Agustus 2012 - 14:27:51 WIB

Assalamu'alaikum...kebnyakn kita memang terlalu idealis dan sok lebih intelek dari ulama2 dulu, bahkan ada yg memvonis kitab ini ato itu tidak relevan lagi, ato apa...tapi kita lupa sesuatu bahwa tak semua.a harus logis...dan bisa di logiskan... Kita umat yg lebih keterbelakng tentunya harus lebih takzim pada guru terutama guru2 yg maqam.a sudah wasil...kerna mereka lebih tau agama dr kita..mereka org2 yg rohnya dibimbing rasolullah...percaya ato tdk itulah keyakinan kami... Takutlah terlalu menuhankan akal pikiran..!!!
handrink
02 Desember 2012 - 17:07:05 WIB

itu untuk tingkat dasar. kalo untuk perkuliahan dan situasi tertentu za ada kitab lainya. jd kalo belum mondok seutuhnya za jangan nyocot dlu za cok dancok. santet ae wong syekh....

jaafar
15 Desember 2012 - 19:14:38 WIB

Wah abdus shobur kok keoookkkk,kikikikikikkkkkkk, jangan nyerah donk...sing shobur kikikikkkkkkkk

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 


Langganan RSS





/ /


Agustus, 2014
MSSR KJS
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31      





846971

Pengunjung hari ini : 16
Total pengunjung : 204822

Hits hari ini : 24
Total Hits : 846971

Pengunjung Online: 2





Apakah Website Ummul Qura memberi manfaat informasi ?

Manfaat Sedikit
Manfaat banyak
Manfaat sedang
Tidak Memberi Manfaat

Lihat Hasil Poling







Nama :
Website :
Pesan